-November, 2021
Mata
memerah miliknya tak bisa berhenti menatap seorang perempuan yang tepat berada
di depan matanya. Sayup-sayup ia dengar percakapan di meja sebelah, beberapa
kali kepalanya mengadah sedikit ke atas, ia takut pertahanannya runtuh seketika
begitu perempuan itu membuka mulutnya. Namun, tak ada jawaban atas pertanyaan
yang telah ia tunggu.
Manik
matanya kini menatap ke bawah, sepatunya kotor. Berbanding terbalik dengan
sepatu sendal bersih model kekinian yang sering dipakai wanita-wanita sosial
media yang berada bersebrangan dengan sepatunya.
“Kamu
… masih kerja di sana?”
Perempuan
itu mengangguk, “Iya.” Jawaban singkat yang sebenarnya lelaki itu sudah
ketahui. Ia mengangguk. Hawa bingung menyeliputi mereka berdua. Si perempuan
tidak berniat sedikitpun menatapnya. Ia hanya menjawab pertanyaan yang
dilontarkan. Ia tidak berniat menjelaskan lebih jauh, apalagi menjawab
kegelisahan yang lelaki itu telah alami selama beberapa bulan terakhir ini.
“Jadi
… ekhem.”
“Apa?”
“Eh…”
Ia
salah tingkah tiap si perempuan berani menatap matanya. Namun, itu terlihat
seperti tatapan kesal. Tidak seperti beberapa bulan lalu ketika netranya masih
seteduh hujan gerimis di pagi hari.
“Ini
udah malem.”
Lelaki
itu kembali gelagapan. “Loh, udah mau pulang?”
Perempuan
itu menaikkan sebelah alisnya. “Iyaa, udah malem.” Satu alasan yang membuat
perempuan itu memakai kembali maskernya.
“Tapi
… kita belum ngobrol banyak …”
“Mau
ngomong apa lagi? Udah malem.”
Yang
lelaki itu tau, perempuan di depannya ini sangat membencinya. Entah apa yang
merasuki tapi ia ingat betul bahwa perempuan ini tidak seperti dulu lagi. “Kamu
benci banget ya sama aku?”
Kembali
diam bukanlah jawaban yang lelaki itu mau. “Aku salah apa?”
Hembusan
napas yang perempuan itu keluarkan keras-keras juga membuatnya jengah. Ia juga
kesal. ‘Kenapa hanya diam? Kenapa tidak bicara sejujurnya?’
“Bisa
unblock Whatsapp aku?”
“Nggak.”
Lelaki
itu Kembali tertegun. ‘kenapa secepat itu menjawabnya?’
“Kenapa?
Aku kan ngga gangguin kamu. Siapa tau kamu butuh aku. Nanti aku bisa bantu.
Kita bisa saling bantu.”
“Ini
udah malem, aku pulang ya?”
Lelaki
itu menggeleng. “Tapi unblock WA aku yaa? Kita baikkan, kan??”
Tapi
perempuan itu sudah menarik kursinya ke belakang dan berjalan menjauh.
Lelaki
itu harusnya tau. Ia tidak dimaafkan. Mereka tidak baikkan.
Mungkin
tidak akan.
Komentar
Posting Komentar