Satu Hal yang Kuingin

 Zaidan memandang langit biru cerah di atasnya kumparan debu beterbangan tertiup angin. Ia melihat ke bawah, anak-anak sedang bermain kejar-kejaran membuat berisik satu komplek.

"Enak ya mereka," batin pria berumur 21 tahun itu. Kemudian ia berbalik badan dan langsung menghadap laptop di atas meja lipat dengan segelas kopi yang telah habis diminum. Itu kopinya yang entah kelima atau enam, pastinya hari ini ia tidak tidur lagi.

Zaidan menghembuskan napasnya kuat-kuat. Lelah, energinya terkuras sudah. Acap kali ia melihat ke bawah dari balkon lantai limanya itu, ia memikirkan hal-hal gila.

"Kalau aku jatuh apa yang terjadi ya?"

Pertanyaan yang sudah biasa ia tanyakan pada diri sendiri. Zaidan selalu menahan untuk tidak bunuh diri. Tuntutan kuliah, kerja sampingan, dan quarter life crisis yang ia hadapi sering kali di luar nalar. Akalnya lelah dimakan rasa campur aduk di dalam dada.

Zaidan ingin mengakhiri semuanya.

Dinaikinya pembatas balkon itu, dihirupnya udara segar yang kini terasa mencekik kerongkongannya. "Aku... hanya ingin lebih dimengerti."

Katanya, lima detik berikutnya ia turun dari pembatas itu dengan hati-hati

"Aku hanya ingin lebih dimengerti... bukan ingin mati."

Komentar